PENDIDIKAN

Skandal Skor PISA: Kenapa Siswa Kita Lebih Jago Scrolling Daripada Membaca?

Afdal Rahendra
Agustus 02, 2026
0 Komentar
Beranda
PENDIDIKAN
Skandal Skor PISA: Kenapa Siswa Kita Lebih Jago Scrolling Daripada Membaca?

Skandal Skor PISA: Kenapa Siswa Kita Lebih Jago Scrolling Daripada Membaca?

Apa gunanya punya smartphone harga belasan juta kalau kemampuan memahami bacaan siswa kita masih "jongkok" di peringkat bawah dunia?

Faktanya, data PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kita lebih jago berdebat di kolom komentar daripada mencerna isi paragraf.

Banyak sekolah sudah mencoba Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan mewajibkan baca buku 15 menit sebelum belajar. Namun, jujur saja, sering kali ini hanya jadi ajang adu akting. Siswa terlihat menatap buku, padahal pikirannya sedang healing ke konser idola atau memikirkan push rank semalam.

Kenapa literasi kita jalan di tempat? Ini beberapa masalah "akut" yang terungkap dari berbagai riset:

  • Fasilitas yang "Mati Suri": Perpustakaan sekolah sering kali lebih mirip gudang buku berdebu daripada tempat yang nyaman buat nongkrong literasi.
  • Kurang Motivasi: Membaca masih dianggap sebagai hukuman, bukan kebutuhan apalagi hobi.
  • Model Belajar Jadul: Guru masih sering menggunakan metode ceramah yang bikin ngantuk, bukannya memancing rasa penasaran siswa.

Riset terbaru menyarankan agar kita berhenti menyiksa siswa dengan bacaan membosankan. Solusinya adalah beralih ke model Project Based Learning (PjBL) atau Discovery Learning.

Alih-alih cuma disuruh baca, siswa diajak memecahkan masalah nyata. Literasi sains dan matematika pun jadi lebih masuk akal kalau dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar angka-angka gaib di papan tulis.

Literasi digital juga bukan cuma soal tahu cara buka Google, tapi bagaimana menyaring hoaks agar tidak mudah "kena gocek" berita palsu. Jika cara mengajar kita masih setua zaman batu, jangan kaget kalau generasi masa depan kita lebih percaya konspirasi daripada data ilmiah.

Sudah saatnya literasi bukan lagi soal "menghabiskan halaman", tapi soal memahami dunia. Jangan sampai kita bangga jadi bangsa yang cerewet di media sosial, tapi "buta" saat disodori kontrak atau petunjuk teknis.

Penulis blog

Tidak ada komentar